Eksistensi Islam dalam Filsafat dan Ilmu Pengetahuan
* * *
Sumbangsih Islam dalam
Filsafat
Di dalam arti teknikal, filsafat
bukanlah ilmu, karena ilmu adalah posteriori (kesimpulan-kesimpulannya ditarik
setelah pengujian berulang-ulang; untuk ilmu tertentu, melalui
percobaan-percobaan). Sedangkan filsafat adalah a priori (kesimpulan-kesimpulan
yang ditarik tanpa pengujian ilmiah). Bahkan cabang-cabang filsafat seperti
metafisika, estetika, dan etika sukar diuji kebenarannya. Sedangkan ilmu
bersifat empirik, filsafat bersifat spekulatif kontemplatif (merenung dan
bersamadi). Meski demikian filsafat erat hubungannya dan saling mempengaruhi
dengan ilmu.
Pada awal eksistensi islam dalam
perkembangan filsafat, kaum Muslimin menerjemahkan karya-karya filsafat Thales
(624-546 pra-M). Pythagoras (530-495 pra-M). Socrates (469-399 pra-M). Plato
(427-347 pra-M). Aristoteles (384-322 pra-M). Theopharatos (371-287 pra-M).
Klaudius Ptolemaios (87-168 M). Klaudius Galenos (129-199 M) serta
filsuf-filsuf lainnya. Dari sini dapat dilihat, bahwa meskipun bertitik tolak
dari pandangan hidup yang bertentangan, namun dengan pikiran mereka yang merdeka,
kaum Muslimin tidaklah berprasangka di dalam menerjemahkan, menelaah, dan
mengulas karya-karya Yunani.
Dalam mengulas kembali
karya-karya Yunani kuno, kaum muslimin selalu mempergunakan rasio atau akal.
Hal ini disebaban Islam adalah agama yang akliah, yang menyuruh kita
menggunakan akal budi dengan sebaik-baiknya. Karena itulah filsafat Neo-Plato
(205-270 M) dari Iskandaria, yang sangat tenar pada masa lahirnya Islam tidak
diterima mentah-mentah oleh Filsuf-filsuf Muslim. Filsuf-filsuf Muslim ini
sangat berperan dalam menyampaikan karya-karya Neo-Plato, di antara
filsuf-filsuf Muslim, yang terkenal adalah al- Kindi (801-862 M), al- Farabi
(870-950 M), dan al- Ghazali (1058-1111 M).
Al- Kindi menghasilkan beberapa
karya asli, di antaranya Fi Aqsam al- Ulum (tentang corak-corak ilmu
pengetahuan) yang membahasa teori ilmu pengetahuan, tetapi peranannya yang
terpenting adalah sebagai pengurai dan penjelas karya-larya filsafat Yunani
kuno yang banyak diterjemahkan. Al- farabi memberikan sumbangan penting kepada
ilmu pengetahuan dengan bukunya Ihsha al-Ulum (Katalogus Ilmu Pengetahuan). Di
dalam buku itu, ia mendaftarkan berbagai ilmu, menguraikan metodologi dan
pokok-pokok persoalannya. Di dalamnya al-Farabi menetapkan kaidah-kaidah kritik
dan pengujian serta pembuktian ilmu.
Secara umum filsuf-filsuf muslim
berkeyakinan tentang esanya ilmu yang bermahkotakan Ilahiah (ketuhanan).
Bertolak dari keyakinan itulah mereka hasilkan karya-karya asli mereka. Filsuf
Islam yang terbesar adalah al-Ghazali, yang di Barat dikenal sebagai Algazel.
Pada pokonya ia membahas bidang metafisika dan hal-hal yang mengenai kejiwan
manusia. Ia diknal sebagai ahlu’sh-shufah (mystic, mysticus) Islam terbesar.
Ahlu’shshufah lain yang terkenal
adalah Walan Abu 1-Mugnits al-Husayn ibn Manshur ibn Muhamma al-Hallaj (858-922
M) dan Abu Bakr Muhammad ibn Ali Muhyddin al-Hatimi ath-Tha ‘i Ibnu’i-‘Arabi
(1165-1240 M), yang mengajarkan ma’rifat dengan Allah. Filsuf terpenting
lainnya adalah Ibn Rusyd (1120-1198 M) yang hidup di Spanyol. Namanya sangat
mashur sebagai dokter. Ia mengorakkan belenggu ketaklidan dan menganjurkan
kebebasan berpikir. Ibn Rusyd mengulas Aristoteles dengan cara memikat minat
semua orang yang berpikir bebas. Ia mengedepankan sunatu’llah menurut
pengertian Islam terhadap pantheisme mitologi (seluruh alam diresapi ruh Tuhan,
Tuhan ada di dalam segala). Demikian besar pengaruh Ibn Rusyd sehingga di Eropa
timbul gerakan Averroeisme (Ibn Rusyd-isme) yang menuntut kebebasan berpikir
sampai akhirnya pada abad ke-16 timbul reformasi dan pada abad ke-17
rasionalisme. Bahkan pengaruhnya jelas kentara pada Thomas Aquinas (1125-1274),
bapak theology Khatolik dengan filsafat Thomismenya dan pula Benedictus Spinoza
(1632-1677), tokoh humanisme Eropa berkebangsaan Belanda keturunan Yahudi.
Thomas Aquinas yang senantiasa
menyangkal pengaruh Ibn Rusyd atas dirinya, adalah murid Albertus Magnus alias
Albert Graf von Bollstaedt (1200-1280) di Universitas Koeln. Guru ini sangat
mempengaruhinya. Dan sang guru adalah penerjemah karya-karya Ibn Rusyd kedalam
Bahasa latin. Penerjemah ini sangat dipengaruhi oleh karya-karya yang
diterjemahkannya. Itulah sebabnya rasionalitas Ibn Rusyd jelas membayang dari
karya-karya Thomas Aquinas. Ibn Rusyd mendahului Pierre Abelard (1079-1142) di
dalam menyatakan universalia yang rangkap tiga.
Buku-buku Ibn Rusyd dicetak di
Venesia pada tahun-tahun 1481, 1482, 1483, 1489, 1497, dan 1500. Bahkan edisi
lengkapnya terbit pada tahun 1553 dan 1557. di samping edisi-edisi Venesia,
masih ada edisi-edisi lain pada abad ke-16 di Napoli, Bologna, Paris, Lyons,
dan Strasbourg. Pada tahun 1608 terbit edisi Jenewa. . sungguh kaya hasil karya
Ibn Rusyd. Ia bukan hanya seorang filsuf Islam, tetapi juga seorang filsuf
dunia.
Dengan dipelajari kembali,
ditelaah kembali, dan ditinjau kembali karya-karya Yunani kuno oleh kaum
muslimin, sesungguhnya mengilhami munculnya empat gerakan yang merubah
peradaban umat manusia sampai sekarang. Gerakan-gerakan tersebut ialah
- Kelahiran kembali (Renainssance) kebudayaan Yunani
klasik pada abad ke-14, mula-mula di Italia, kemudian menyebar ke
negara-negara Eropa lainnya. - Gerakan pembaruan agama Kristen mulai abad ke-8 M
dan memuncak pada abad ke-16 M, dengan reformator-reformator Luther,
Zwingli, dan Calvin. - Rasionalisme(suatu gerakan yang mengutamakan rasio
atau akal) pada abad ke-17, yang dibapaki oleh dua tokohnya, yaitu, Rene
Descartes (1596-1650) dan John Locke (1632-1704), masing-masing dari
Prancis dan Inggris. - Gerakan Pencerahan (Aufklaerung, enlightenment)
pada abad ke-18 di Jerman, dengan tokoh-tokohnya Voltaire (1698-1779), D.
Diderot (1713-1784), Baron de Montesquieu (1689-1755) dari Prancis, G. W.
Leibniz (1646-1716) dari Jerman, dan M.V. Lomonossov (1711-1765) dari
Rusia.
Keempat gerakan tersebut
berpangkal pada Islam, karena kebangkitan kembali yang timbul dari panggilan
pusaka Yunani oleh filsuf-filsuf Islam berupa Filsafat dan pengetahuan. Eropa
megenal pusaka tersebut melalui terjemahan-terjemahan Arab. Bukan hanya
karya-karya Yunani itu saja yang berpengaruh, melainkan juga ulasan-ulasan,
tafsiran-tafsiran, dan tambahan-tambahan yang ditulis oleh filsuf-filsuf dan
sarjana-sarjana Muslim. Selanjutnya ada lagi suatu gerakan anak Renaissance, yakni
humanisme (abad ke-16) yang meletakan manusia pada pusat perhatian sebagai
akibat filsafat anthropocentric Yunani serta protes terhadap peremehan peranan
manusia oleh gereja.
Sumbangsih Islam dalam Ilmu
Pengetahuan
Berbicara mengenai Ilmu
Pengetahuan, berarti membicarakan berbagai penemuan Muslimin. Banyak Muslimin
yang ahli dan memberikan sumbangsih bagi perkembangan ilmu pengetahuan,
khususnya Ilmu Pengetahuan Alam, di antaranya adalah Abu Raihan ibn Ahmad
al-Biruni. Ia adalah seorang jenius yang besar dalam bidang ilmu alam dan
filsafat. Ia telah membahas tentang sinar, warna-warni dan optika. Ialah yang
mengoreksi pendapat Euclides dan Ptolemaios yang keliru, bahwa benda menjadi
terlihat karena benda memantulkan sinar kepada benda. Ia menegaskan, bahwa
justru sebaliknyalah, benda menjadi terlihat karena benda memantulkan sinar
kepada mata. Dibahasnya pula teori pecahnya sinar. Ia seorang ahli percobaan
yang terkenal di bidang ilmu alam.
Di bidang-bidang mekanika,
sarjana-sarjana Muslim telah mengenal hukum jatuhnya benda (gravitasi) dan ilmu
gerak lama sebelum Isaac Newton (1642-1727). Salah seorang ahli kimia Muslim
yang terkenal adalah Ibn Hayyan (100-777). Ibn Hayyan telah banyak melakukan
banyak percobaan tentang sublimasi, pemerasan, pembasian, pengasaman, dan
penyulingan. Dengan demikian dialah perintis empirisme sebagai metodologi
ilmiah.
Ibn Hayyar luar biasa tekunnya
dalam mengadakan percobaan dengan berbagai pelicin, menghubungkan hasil
percobaan yang positif. Ialah penemu asam karbid. Ia pulalah yang menyumbangkan
teori penguapan dan persenyawaan, pembutiran, pelelahan, dan sublimasi
(perubahan dari zat padat menjadi gas).
Bahan-bahan kimia yang ditemukan
oleh kaum Muslim adalah luas sekali, termasuk alkohol, belerang, sendawa, tawas,
amoniak, asam baron, borax dan air raksa. Perkembangan lebih lanjut, kimia
dasar atau kimia terapan adalah ilmu obat-obatan. Kemajuan di bidang kimia
menimbulkan pula kemajuan di bidang alat-alat kecantikan. Kaum Muslim pula yang
mula-mula membuat dan mempergunakan sabun yang bersama minyak wangi, baru
dikenal orang-orang Barat sejak Perang Salib.
Sekedar membahas perkembangan di
bidang kedokteran, dokter Muslim yang paling terkenal ialah Hunayn ibn Ishaq
(809-874). Ia sangat rajin melakukan penelitian dan menulis buku-buku tentang
berbagai penyakit, terutama penyakit mata. Ia telah menerjemahkan 100 buah buku
Galenos (131-201 M) ke dalam bahasa Arab dari Bahasa Yunani yang dikuasainya
dengan baik. Terjemahannya sangat teliti dan mudah untuk dipahami.
Sesudah Hunayn ibn Ishaq, tokoh
besar ilmu kedokteran adalah Abu Bakr Muhammad ibn Zakariyya ar-Razi, yang di
Barat dikenal dengan nama Razes, adalah sarjana kedokteran dan ahli kimia yang
besar. Ialah penemu air raksa yang banyak dipergunakan di bidang kedokteran,
dan di Eropa baru dikenal pada masa Czar Rusia Alexei Mikhailovitsy (1629-1676
M). ar-Razi juga yang pertama kali mendiagnosis cacar. Ia pulalah orang yang
mula-mula meneliti penyakit tersebut serta membedakannya menjadi cacar air dan
cacar merah. Selanjutnya ia dianggap penemu seton (tampal luka). Ar-Razi juga
yang melakukan pengobatan khas dengan pemanasan saraf. Ia pulalah yang
mementingkan pengobatan sakit kepala. Diduga, ia juga yang pertama kalinya
mendiagnosis tekanan darah tinggi.* * *