Konflik Agama di Maluku Sebagai Kepentingan Politik

Konflik
Maluku yang telah menyebabkan hancurnya berbagai tatanan kehdupan masyarakat
Maluku dan melibatkan pelaku konflik yang begitu banyak, serta menyebabkan
korban konflik begitu besar, yang terjadi sejak 19 Januari 1999. Diawali
penyerangan komunitas Kristen terhadap komunitas Islam yang sedang melakukan
ibadah shalat Idul Fitri di Ambon merupakan konflik agama.

Lantas
kalau begitu, pertanyaan yang penting yang harus kita renungkan bersama ketika
melihat konflik agama yang terjadi di Maluku adalah mengapa terjadi konflik
agama?. Bukankah semua agama serat dengan pesan-pesan moral dan kemanusiaan.
Lalu mengapa diantara sesama pemeluk agama saling membunuh dan menghancurkan
atas nama agama? Apakah agama mengandung potensi konflik? Jelas tidak.

Para
sosiolog berpendapat, terdapat dua sisi agama yang masing-masing berbeda namun
tidak dapat dipisahkan. Pertama agama yang berada pada tataran normatif dan
kedua, agama yang terjelma di dalam wilayah historitas. Pada tataran normatif,
agama mengandung seperangkat nilai-nilai moral universal yang sifatnya
ahistori. Sedangkan pada wilayah historitas, nilai-nilai agama yang universal
memasuki wilayah budaya.

Ketika
nilai-nilai universal agama memasuki wilayah historitas atau budaya maka agama
berintegrasi dengan kepentingan-kepentingan manusia yang bersifat aktual,
seperti kipentingan politik, ekonomi, dan sosial. Maka pada level ini, agama,
budaya, dan masyarakat saling mempengaruhi dan ketika itu nilai-nilai luhur
suatu agama bisa mengalami distorsi, sehingga agama bisa dipakai untuk
menjastifikasi suatu kepentingan, seperti, kepentingan politik, ekonomi, dan
sebagainya, di sini agama bisa dijadikan sebagai alat pemicu konflik karena
telah terjadi ideologisasi agama yang selanjutnya melahirkan sektarianisme.

Dengan
analisa di atas, maka konflik agama di Maluku bukanlah murni muatan agama,
melainkan upaya mengeksploitasi simbol-simbol agama untuk
kepentingan-kepentingan politik oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,
dalam hal ini juga ada indikasi keterlibatan negara-negara Barat dalam konflik
Maluku. Hal ini dapat terlihat dari adanya senjata canggih yang ditemukan di
Maluku dan bahkan tidak dimiliki oleh TNI. Mengingat wilyah Maluku yang
strategis, membuat Maluku diperebutkan sebagai wilayah yang tepat untuk
menanamkan pengaruh.

One Response to “Konflik Agama di Maluku Sebagai Kepentingan Politik”

  1. obieth Says:

    thx ya udanulis tentang konflik di Maluku. cz q ge butuh bgt infoitu. hehehe

Leave a Reply